PERUBAHAN SOSIAL
DAN PERAN MASYARAKAT
DALAM
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA
KEPULAUAN
KARIMUNJAWA
ARTIKEL
Oleh
QOMARUDIN
0301510048
PROGRAM
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN IPS
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
2012
Qomarudin
Pendidikan
IPS (0301510048)
Abstrak
Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui sejauh mana pengembangan Kawasan Wisata Karimunjawa
menyebabkan perubahan sosial pada masyarakatnya, dan mendeskripsikan peran
penduduk dalam melaksanakan program pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan
Karimunjawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial selalu terjadi
dalam masyarakat termasuk dalam pengembangan kawasan wisata Kepulauan
Karimunjawa, diantaranya adalah peningkatan pendapatan, semakin majunya pola
pikir sebagai hasil dari interaksi dengan wisatawan, meningkatnya kesadaran
untuk melindungi ekosistem yang ada dalam kawasan wisata. Sedangkan dampak
negatif diantaranya adalah semakin berubahnya pola hidup kebersamaan menjadi
matrealisme dan individualistik, semakin tingginya tingkat pencemaran sebagai
akibat wisata dan pembangunan tidak dirasakan oleh semua lapisan masyarakat
yang ada di Karimunjawa.Peran serta masyarakat dalam pengembangan kawasan
wisata belum optimal dan sangat tergantung dari karakterisik sosial dan budaya
masyarakat, ,karakteristik ekonomi masyarakat dan ketersediaan sarana prasarana
serta wilayah pusat pengembangan
Kata Kunci : Perubahan Sosial, Peran Masyarakat, Kawasan Wisata
PENDAHULUAN
Salah satu sektor yang digalakkan dalam pembangunan adalah bidang wisata, karena Indonesia
memiliki berbagai daya tarik baik dari budaya maupun keindahan alamnya. Jawa tengah sebagai salah
satu wilayah Indonesia memiliki wilayah yang potensial dalam pengembangan
wisata, potensi kawasan wisata itu
berada di Taman Nasional kepulauan Karimunjawa. Pendapatan
Karimunjawa untuk negara berasal dari tiket
masuk, wisata selam, homestay dan sumber lain yang termasuk ke dalam
PNBP mencapai Rp. 21.510.000 pada tahun 2009, pendapatan ini naik dari Rp.
12.422.500 pada tahun 2008 (Susetiono, dkk. 2010: 17). Pengembangan
kawasan yang dilakukan pemerintah sedikit banyak mengubah aktifitas masyarakat
di sekitarnya, adanya objek wisata akan mendatangkan tamu yang membutuhkan
pelayanan, hal ini akan membuka lahan baru bagi masyarakat yaitu dengan membuka
berbagai usaha seperti penginapan, rumah
makan atau usaha dibidang jasa lainnya, kesempatan ini jika dimanfaatkan dengan
baik akan menjadi hal yang positif serta dapat meningkatkan kesejahteraan.
Memanfaatkan keindahan
alam yang masih alami dan bertambahnya sarana serta infrastruktur merupakan
nilai lebih sebagai daya tarik, semakin banyak wisatawan yang datang maka
keuntungan akan semakin banyak dan Karimunjawa semakin terkenal. Wisatawan yang
datang tentunya bukan hanya dari Indonesia saja atau turis lokal, tetapi juga
dari mancanegara, ketika orang datang maka mereka akan membawa kebiasa an-kebiasaan
yang dianggap biasa ditempat asal.
Penetapan Karimunjawa sebagai Taman
Nasional Laut (TNL) merupakan aset yang sangat berharga bagi kelestarian sumberdaya alam dan
ekosistem alami serta plasma nuftah sehingga dapat digunakan untuk pengembangan
ilmu pengetahuan, sebagai
tempat kegiatan pariwisata dan berfungsi dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Perencanaan
pembangunan suatu kepulauan merupakan
masalah yang sangat spesifik, karena sebagian besar masyarakat di kepulauan
kecil memiliki tingkat pendapatan dan derajat kesejahteraan yang rendah.
Kemiskinan dan ketidak-berdayaan
tersebut
merupakan
ancaman utama dalam pengelolaan wilayah kepulauan secara berkelanjutan, karena sebagai penduduk yang
menghuni kawasan maka secara langsung juga memanfaatkan lingkungan sebagai
sumber pencaharian, dari penjelasan tersebut kiranya dipandang perlu memberikan
perhatian lebih besar dalam
merumuskan berbagai pendekatan pembangunan kepulauan kecil tersebut demi
menjaga kelestarian.
Perubahan sosial
adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial
dan pola budaya dalam suatu masyarakat, perubahan sosial merupakan gejala umum
yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat, gejala itu terjadi sesuai
dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan
(Soekanto, 2006: 261). Pembangunan yang dilaksanakan di Kepulauan Karimunjawa juga secara langsung berdampak pada perubahan sosial didaerah
tersebut.
Paradigma pengelolaan
ling-kungan dalam pengembangan wisata diupayakan tetap mengutamakan kelestarian
lingkungan, namun di satu sisi juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Pengelolaan wisata yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan disebut
ekowisata (ecotourism). ekowisata
menjadi suatu bentuk wisata berwawasan lingkungan yang dari hari ke
hari semakin mendapat perhatian dari masyarakat dunia, terutama oleh
negara-negara berkembang karena ekowisata lebih menekankan pada pemanfaatan
sumber-sumber lokal untuk konservasi, pendidikan atau pembelajaran, dan
pemberdayaan masyarakat setempat dalam upaya peningkatan ekonomi lokal (Lisa,
2005: 4). Penekanan tersebut menarik
perhatian negara-negara berkembang terutama negara yang memiliki daerah alami
untuk mengembangkan ekowisata, karena daerah tujuan ekoturis merupakan
daerah-daerah yang dapat meng-hindarkan mereka dari kejenuhan kehidupan rimba
beton, kemewahan, dan modernitas, seperti di kota atau negara-negara maju.
Penelitian ini bertujuan
untuk 1) mengetahui sejauh mana pengem-bangan Kawasan Wisata Karimunjawa
menyebabkan perubahan sosial pada masyarakatnya. 2) Mengkaji perubahan sosial yang ada di kepulauan Karimunjawa sebagai
dampak dari pengembangan kawasan wisata kepulauan Karimunjawa. 3) Mendeskripsikan
peran penduduk dalam melaksanakan program pengembangan Kawasan Wisata Kepulauan
Karimunjawa.
Manfaat penelitian ini adalah sumbangan terhadap ilmu
pengetahuan khususnya dalam bidang pengembangan wisata dan perkembangan ilmu
sosial. Mengetahui perubahan sosial dan peran masyarakat yang ada dalam
pengembangan kawasan wisata Memberi
masukan terhadap para pengambil kebijaksanaan dalam pembangunan agar lebih cermat
dalam mengembangkan kawasan wisata.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini pada
dasarnya ditujukan untuk mengetahui perubahan sosial yang terjadi pada
masyarakat Karimunjawa sebagai dampak dari pengembangan kawasan wisata, penelitian berusaha menggambarkan suatu gejala sosial,
yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang hidup dan
beraktivitas disana.
Dalam penelitian ini data
yang diperoleh berupa kata-kata dan tindakan informan sebagai sumber data, sumber
tertulis mengenai kondisi dan laporan wilayah yang diteliti dan foto sebagai
bahan analisis untuk mendeskripsikan kondisi sebenarnya subyek penelitian.
Pengumpulan informasi,
melalui wawancara dan observasi langsung. wawancara yang dilakukan dengan informan
semata-mata sebagai bahan kajian yang mendasar untuk membuat kesimpulan. Wawancara
dilakukan kepada pihak-pihak yang dipandang mengetahui kondisi Karimunjawa
sebelum dan sesudah ada pengembangan kawasan wisata, pihak-pihak itu antara
lain adalah kepala desa, pegawai balai taman nasional, aparat pemerintah
(kecamatan), pemilik warung makan, karyawan hotel/homestay
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengembangan
kawasan wisata
Penetapan Kepulauan
Karimun-jawa sebagai Taman Nasional Laut
tidaklah begitu saja ditetapkan akan tetapi melalui beberapa proses, penetapan
ini diambil berdasarkan pertimbangan perlindungan berbagai aneka biota laut
yang merupakan sumberdaya alam yang tiada ternilai, serta keindahan alam yang
sangat mempesona dan menjadi daya tarik sendiri, bahkan menurut wisatawan yang
datang secara alamnya kawasan ini lebih menarik dari pada pulau Bali, dengan
pengembangan fasilitas yang terus dikembangkan maka kawasan wisata ini
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, dengan biaya rata-rata untuk ebrkunjung lebih
rendah dari biaya untuk berwisata di Bali, Karimunjawa merupakan pilihan yang
tepat bagi mereka yang ingin berlibur menikmati indahnya pasir putih dan
birunya laut dengan harga yang relatif terjangkau.
Dalam perkembangannya ada beberapa kendala
yang ditemui dilapangan hal ini terjadi karena tingkat pemahaman penduduk yang
kurang akan kelestarian lingkungan dan bertambah-nya jumlah populasi manusia
yang memanfaatkan alam untuk mencapai kesejahteraan. Pengunjung
di TNKj umumnya memiliki tujuan dan asal yang bervariasi antara lain wisatawan
mancanegara dan lokal dengan tujuan rekreasi, penelitian dan tujuan lain.
Perubahan
Sosial Masyarakat
Secara sosiologis
masyarakat Kepulauan Karimunjawa heterogen, terbentuk oleh kebutuhan akan pengembangan kehidupan dan hajat
hidup sosial ekonomi. Kegiatan wisata ini akan menyebabkan berkembangnya
pergaulan, interaksi dan proses-proses sosial masyarakat Jawa, Bugis dan
Madura, yang membawa nilai-nilai sosial-budaya kelompok masyarakat. Pada masa-masa yang akan datang, kelompok-kelompok
masyarakat tersebut akan mengalami interaksi dan proses-proses sosial dengan
bangsa-bangsa pendatang dalam kategori pengunjung dan investor.
Kondisi yang ada di
Karimunjawa sangat berperan pada perilaku sosial yang ada dalam masyarakat, sebelum
dikembangkan menjadi kawasan wisata orang-orang yang datang ke Karimunjawa
sebagian besar adalah nelayan yang mengandalkan mata pencahariannya mencari
ikan akan tetapi seiring berjalannya perkembangan pemikiran manusia dan
penetapan kawasan wisata maka perubahan itu dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu
:
Mata pencaharian, meskipun
sebagian besar masih mengandalkan sektor perikanan untuk mencukupi kebutuhan
sehari-hari, sebagian masyarakat sudah beralih mata pencaharian kedalam bidang
jasa yang menunjang adanya kawasan wisata seperti membuat penginapan,
menyediakan sewa kapal dan alat menyelam, warung makan dan cinderamata khas
Karimunjawa yang dibuat dari kayu Setigi, Dewadaru dan Kalimasada, sebagian
juga ada yang masih berhubungan dengan perikanan seperti ikan asin yang dijual
sebagai oleh-oleh serta ikan bakar yang dijual ketika malam hari.
Dari hasil pengamatan pada
teknologi dan peralatan terdapat kemajuan yang signifikan dari adanya
pengembangan kawasan ini, kemajuan ini dapat ditunjang oleh beberapa faktor
yaitu adanya pengembangan daerah sebagai program pemerintah, dan pengembangan
yang dilakukan pihak swasta sebagai investor, serta peran swadaya masyarakat
yang sudah mulai maju. Untuk mendukung adanya kegiatan pariwisata dan
pembangunan terdapat akses komunikasi dari tiga perusahaan telekomunikasi yang
menanamkan modalnya disana meskipun tidak menjangkau seluruh daerah, hal ini
dikarenakan topografi Karimunjawa yang berbukit-bukit dengan dataran rendah
yang sempit memanjang sehingga signal
tidak begitu bagus.
Untuk menambah daya
tarik terhadap wisatawan didatangkan kapal kaca yang disediakan bagi mereka
yang ingin menuju ke pulau Parang, untuk memudahkan para wisatawan bepergian
mengunjungi tempat-tempat wisata didarat, penduduk menyediakan jasa
transportasi seperti angkutan bak terbuka dan tertutup bahkan menyewakan sepeda
motor untuk berkeliling.
Pengembangan kawasan
wisata memudahkan masuknya arus barang, modal maupun orang ke daerah akan
semakin meningkatkan kompetisi antar wilayah yang sedang dikembangkan termasuk
keturunan beragam suku yang tinggal didalamnya. Arus modal baik nasional maupun
internasional sangat sulit untuk dihindari dalam perkembangan wilayah saat ini,
akan tetapi hubungan antara pengusaha dengan penduduk di Karimunjawa tidak
ditentukan oleh modal semata, tetapi juga oleh pola hubungan antar
kelompok-kelompok penghuni wilayah tersebut.
Organisasi sosial yang
ada terbentuk setelah adanya pengembangan kawasan wisata seperti adanya
koperasi simpan pinjam, bank, perkumpulan guide dan SAR (Search and Rescue) yang lebih dikenal dengan HPI (Himpunan
Pramuwisata Indonesia) yang didirikan pada tahun 2004 dengan anggota 35 orang
dan jumlah ini akan bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk dan
meningkatnya jumlah wisatawan. perkumpulan angkutan dan persewaan alat selam
yang hampir semuanya bergerak pada sektor ekonomi.
Pengembangan kawasan
wisata membawa dampak yang positif kepada kondisi sosial termasuk dunia
pendidikan, adanya wisata membuka peluang untuk para pemuda menjadi guide (pemandu wisata), untuk itu
pemerintah sudah mengadakan pelatihan untuk para pemuda yang bergabung dalam
HPI, pendidikan ini bersifat non formal
dengan mengadakan pelatihan-pelatihan dan loka karya, sekaligus dibekali
menjadi tim SAR yang bertujuan untuk menjadi penyelamat jika terjadi kecelakaan
pada wisatawan.
Pengembangan kawasan
Karimunjawa sebagai daerah wisata akan meningkatkan pengunjung yang berasal
dari mancanegara, untuk para pengelola, pemilik toko
souvenir, mereka dituntut untuk bisa berbahasa asing minimal Inggris jika tidak
maka mereka harus mendatangkan orang lain atau pekerja yang mampu berbahasa
asing, ini merupakan kesempatan bagi generasi muda yang ingin bergerak dalam
jasa guide atau yang lain.
Kekhawatiran yang
muncul dari gejala ini adalah akan lunturnya bahasa asal yang merupakan sumber
dari kekayaan budaya nasional, dengan dalih untuk memperbaiki
kondisi ekonomi mereka hanya belajar bahasa Indonesia sebagai percakapan dengan
turis lokal dan belajar bahasa asing untuk menyambut turis dari mancanegara
Rumah sebagai ciri khas
yang menunjukkan status sosial penghuninya juga terdapat di Karimunjawa, meski
telah banyak rumah yang beralih menjadi modern untuk mendukung kegiatan wisata,
beberapa pengembang justru membangun penginapan bernuansa adat untuk menambah
daya tarik. Sejak adanya wisatawan yang datang ke Karimunjawa pada 1990an
penduduk banyak yang merubah rumah huniannya menjadi homestay dengan cara disekat-sekat, homestay ini biasanya disediakan untuk wisatawan dengan ekonomi
menengah ke bawah.
Peran
Masyarakat
Berhasilnya suatu
program juga harus didukung oleh kondisi politik yang stabil sehingga para
investor yang datang tidak ragu-ragu untuk menanamkan modalnya. Sering kita
jumpai bahwa pembangunan suatu daerah hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu
sehingga masyarakat sebagai warga pribumi merasa iri karena tidak merasakan
pemerataan hasil dari sumber daya yang ada. Kondisi demikian juga terjadi di
Karimunjawa, sebagai daerah pengembangan wisata ternyata tidak semua wilayah
mendapatkan kesempatan untuk berkembang, bahkan sering hanya mendapatkan dampak
negatifnya sehingga perlu adanya koordinasi antara pemerintah dan warga dalam
kegiatan pembangunan.
Forum Stakeholders
Karimunjawa dapat menjadi media komunikasi untuk berbagai kepentingan yang
berkaitan dengan pengelolaan Karimunjawa. Balai Taman Nasional diharapkan
berperan sebagai inisiator forum, masyarakat berperan sebagai pengguna sumberdaya alam dan Muspika berperan
sebagai rekanan balai taman nasional dalam melaksanakan penegakan hukum di
Karimunjawa. Forum ini berfungsi mencari solusi bagi permasalahan yang
berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam di Karimunjawa, termasuk mencari (alternative
livelihood) bagi masyarakat Karimunjawa, Forum yang ber-anggotakan semua
pemangku kepentingan di Karimunjawa bertugas mengidentifikasi peran-peran spesifik
dari masing-masing pihak, membangun kesepakatan bersama dan koordinasi. Keberadaan
forum ini diharapkan mampu mengakomodasi seluruh kepentingan untuk menghindari
tumpang tindih pelaksanaan program kerja (Arif. 9 April 2012).
Selain partisipasi
aktif masyarakat, dibutuhkan juga partisipasi semua pihak yang berkepentingan
untuk membuat sistem pengelolaan yang akan diterapkan di Taman Nasional
Karimunjawa. Partisipasi ini dilakukan melalui mekanisme konsultasi publik
sehingga semua pihak dapat memahami dan menjalankan pengelolaan Karimunjawa.
Melalui mekanisme konsultasi publik, peluang untuk melakukan kompromi dalam
menjalankan sistem pengelolaan bersama akan semakin besar.
Sebagai contoh
masyarakat akan sepakat mendukung keberadaan zona inti selama penegakan hukum
dilakukan dengan benar dan adanya pelarangan alat tangkap yang tidak ramah
lingkungan seperti Muroami, Jaring Ambai, Jaring Pocong, Jaring Kursin, Potas
dan alat bantu Kompressor.
Penurunan stok ikan di
Karimunjawa diindikasikan oleh penurunan hasil tangkap, dilihat dari kuantitas
maupun kualitas ikan yang tertangkap. Hal ini disebabkan oleh rusaknya
ekosistem terumbu karang, penangkapan berlebih dan penggunaan alat tangkap yang
merusak. Untuk mewujudkan pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan
dibutuhkan keseriusan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam penerapan
kebijakan. Keseriusan dan konsistensi pemerintah ini diwujudkan dengan regulasi
bidang perikanan yang sesuai dengan ketersediaan sumberdaya perikanan dan kebutuhan
masyarakat setempat. Kenyataannya regulasi bidang perikanan yang diterbitkan
dan menjadi acuan dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di Karimunjawa selama
ini kurang sesuai dengan ketersediaan sumberdaya ikan yang ada dan juga tidak
sesuai dengan tipologi perairan kepulauan Karimunjawa (Balitbang Jateng, 2004:
9).
Tidak efektifnya
pelaksanaan pengamanan kawasan sangat tergantung kepada keseriusan pihak
berwajib dalam menegakkan hukum sesuai aturan yang berlaku. Syarat yang harus
dipenuhi adalah adanya kejelasan mekanisme dan prosedur hukum yang bisa menjadi
pedoman pihak yang berwajib dalam menindak setiap pelanggaran yang terjadi. Masalah
yang juga sering terjadi adalah kebocoran informasi tentang jadwal patrol, hal
ini harus diantisipasi dengan membentuk tim khusus yang mempunyai wewenang
untuk menentukan kapan dan dimana patroli akan dilaksanakan sehingga dapat
mencapai target yang diinginkan.
SIMPULAN DAN SARAN
Perubahan sosial selalu
terjadi dalam masyarakat termasuk dalam pengembangan kawasan wisata Kepulauan
Karimunjawa, sebagian perubahan yang terjadi merupakan perubahan yang bersifat
positif diantaranya adalah peningkatan pendapatan, semakin majunya pola pikir
sebagai hasil dari interaksi dengan wisatawan, meningkatnya kesadaran untuk
melindungi ekosistem yang ada dalam kawasan wisata. Sedangkan dampak negatif
diantaranya adalah semakin berubahnya pola hidup kebersamaan menjadi
matrealisme dan individualistik, semakin tingginya tingkat pencemaran sebagai
akibat wisata dan pembangunan tidak dirasakan oleh semua lapisan masyarakat
yang ada di Karimunjawa.
Peran serta masyarakat
dalam pengembangan kawasan wisata belum optimal dan sangat tergantung dari
karakterisik sosial dan budaya masyarakat, ,karakteristik ekonomi masyarakat
dan ketersediaan sarana prasarana serta wilayah pusat pengembangan.
Untuk menciptakan keserasian dalam pembangunan maka dibutuhkan
pembentukan dan penguatan organisasi masyarakat dan keagamaan, sebagai
filter dari perubahan yang sifatnya negatif baik bagi masyarakat maupun
kerusakan lingkungan. Mengajak semua lapisan
untuk turut andil berperan serta dalam memberi sumbangan
sukarela dan mencari dana dengan melibatkan oragnisasi masyarakat maupun organisasi
wadah keagamaan, serta aktif
melakukan mobilisasi dan peningkatan swadaya yang bertumpu kepada kekuatan
masyarakat sendiri atau kelompok sasaran (self-development).
DAFTAR RUJUKAN
Agnesari, Lisa. 2005. Intensitas Dampak Lingkungan Dalam
Pengembangan Ekowisata (Studi Kasus Pulau Karimunjawa, Taman Nasional
Karimunjawa. Tugas akhir. Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro, Semarang. UNDIP.
Alfa,Gita Arsyadha. 2002. Kajian Prospek Dan
Arahan Pengembangan Atraksi Wisata Kepulauan Karimunjawa Dalam Perspektif
Konservasi. Tugas Akhir. Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro, Semarang. UNDIP.
Afendi. 2004. Kajian Bagi
Mengenal Pasti Karektor fizikal Dan Sosio-Budaya
Bandar: kajian Kes Melaka Bandaraya Bersejarah. Tesis : Fakulti Alam Bina Universiti Teknologi Malaysia.
Ardu,
Marius Jelamu. Kajian Analitik. Jurnal Penyuluhan. September 2006, Vol. 2 No. 2. Bogor: IPB.
Asy’arie, Musa. 2002. Menggagas
Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan. Yogyakarta: LESFI.
Atkins,
Kate. 2004. Tourism and Development in the Karimunjawa
National Park. Makalah. Malang: UMM
Ayunita,
dian NN. Imam Triarso, Sri Yulina W. 2004. Pengembangan Wisata Bahari di Taman
Nasional KArimunjawa. Laporan Kegiatan. Semarang: Undip.
Balai
Taman Nasional Karimunjawa. 2004. Pengelolaan
Taman Nasional Karimunjawa: Semarang.
Eflina,
Debora purba dan Ali Nina Liche Seniati. 2004.
Pengaruh Kepribadian Dan
Komitmen Organisasi Terhadap Organizational
Citizenzhip Behavior. Jurnal Makara Sosial Humaniora, Vol. 8 no. 3. Hal 105-111. Fakultas
Psikologi, Universitas Indonesia
Faizin, Karimi.Ahmad. 2010. Perubahan Budaya Akibat Pembangunan. Makalah. Kudus.
MA NU Banat Kudus.
Fandeli,
Chafid. Mukhlison. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Makalah. UGM. Fakultas Kehutanan
Univ. Gadjah Mada Yogyakarta
Hadi,
I. dkk. 2007. Kualitas Air Tanah Karimunjawa,
Pulau Karimunjawa. Jurnal Riset Geologi
dan Pertambangan. Jilid 17 No.2. Hal 27-50. Bandung: Pusat Penelitian
Geoteknologi LIPI
Hayati,
Rahma. 2010. “Model Ambang Batas Fisik
Dalam Perencanaan Kapasitas Areawisata Berwawasan Konservasi Di Kompleks Candi Gedong Songo Kabupaten
Semarang” Jurnal Geografi FIS –UNNES, Volume 7 No. 1. Hal 57-65
Hefner,
R.W. 1999. Geger Tengger. Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Jogjakarta :
LKIS.
Hendarti,
Pauline R. Hak-Hak Asasi Manusia Bagi Warga Miskin Kota. Jurnal Masyarakat dan Budaya. 2002. Volume IV, No. 2. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Kebudayaan-LIPI.
Husken,
F. 1998. Masyarakat Desa dalam perubahan
Zaman, Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830 - 1980.
Jakarta: Grasindo.
Ihromi T.O. 1999. Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Jamin, Roliviyanti. 2010. Konsep Peran Serta Masyarakat Dalam Upaya Peningkatan Kualitas
Lingkungan Perumahan BTN Baumata Kota Kupang, Tesis,
Fakultas Tehnik Sipil dan Perencanaan, Surabaya: ITS.
Jatman,
Daradjatun. 1989. Sekitar Masalah
Kebudayaan. Bandung: Alumni.
Jaya, Askar. 2004. Konsep
Pembangunan Berkelanjutan. Makalah. Bogor : IPB
Jellinek,
L. 1995. Seperti Roda Berputar. Perubahan
Sosial Sebuah Kampung di Jakarta. Jakarta: LP3ES.
Khamenei,
Imam Ali. 2005. Perang Kebudayaan.
Jakarta: Cahaya.
Moleong,
Lexy. 2007. Metode Penelitian
Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mutaqin, Awan. Gurniawan Kamil Pasya. 2000. Masyarakat Indonesia Dalam Dinamika. Bandung: Buana Nusa
Sarwono, Jonathan. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif dan
Kuantitatif. Jogjakarta: Graha Ilmu.
Saptutyningsih, Endah. 2003. Dampak Perubahan Pengeluaran
Wisatawan Terhadap Pendapatan
Rumah Tangga Di Indonesia Pendekatan Structural Path Analysis (Spa) Dalam Snse
Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan Kajian
Ekonomi Negara Berkembang. Vol.
8 No. 1 Hal: 1 – 18. Jogjakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah
Yogyakarta
Shurmer.
Pamela Smith. 2002. Doing Cultural Geography: London : SAGE
Publications Ltd.
Sujiman, Panuti. 1992. Serba-Serbi
Semiotika. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Soemardjan
Selo. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers.
Soelaeman, Munandar. 2007. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Refika
Aditama.
Soemarwotto, Otto. 1998. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan
Soekanto,
Sarjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: Rajawali Pers
Susetiono.
Dkk. 2010. Penyusunan Panduan Evaluasi Efektivitas Pengelolaan untuk Kawasan Konservasi Laut di
Indonesia. Jakarta: LIPI.
Sztompka,
Piotr. 2008. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Group
Sutanto,
Astrid S. 1985. Pengantar Sosiologi dan
Perubahan Sosial. Jakarta:
Binacipta.
Thung,
Ju Lan, dkk. 2009. Transformasi Sosial Di Perkotaan Pantai
Utara Jawa Studi Banding Pekalongan dan Jepara. Jakarta: Pusat Penelitian
Kemasyarakatan dan Kebudayaan-LIPI.
Tjahyadi, Sindung. 2003. Teori Kritis Jürgen Habermas: Asumsi-Asumsi Dasar Menuju Metodologi
Kritik Sosial. Jurnal Filsafat. Jilid 34 No. 2. Jogjakarta: Fakultas Filsafat UGM.
William,
Stephen. 2003. Tourism Geography. Taylor & Francis
e-Library.
Wuthnow, Robert. 1987 . Cultural
Analiysis the Work of peter I berger,
mary douglas, Michel Foucault and Jurgen habermas,. routledge&keganpaul
inc.London&new York.
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_karimun.htm di
unduh 13 Maret 2012 pukul 20.00

qt juga bisa melayani tour untuk ke Karimunjawa barangkali berminat dengan harga yang menarik
BalasHapus